MamaPapa Peduli Semeru

LUMAJANG – Di tengah duka yang menyelimuti lereng Gunung Semeru, secercah harapan hadir melalui aksi nyata kepedulian sesama. Yayasan Mama Papa Mengaji, yang selama ini dikenal sebagai pelopor metode baca Al-Qur’an cepat dan aplikatif di Indonesia, turun langsung mensponsori aksi donasi kemanusiaan untuk membantu para penyintas erupsi.

Kegiatan ini bukan sekadar penyaluran bantuan materi, melainkan bentuk implementasi dari nilai-nilai Al-Qur’an yang selama ini diajarkan oleh yayasan tersebut: menebar manfaat bagi sesama dengan cara yang paling mudah dan menyentuh hati.

Membawa Semangat “Keluarga” ke Posko Pengungsian

Nama “Mama Papa” yang menjadi ciri khas yayasan ini tidak dipilih tanpa alasan. Dalam metode belajarnya, diksi “Mama” dan “Papa” digunakan untuk menciptakan kedekatan psikologis dan rasa nyaman. Semangat kekeluargaan inilah yang dibawa ke lokasi bencana.

“Kami ingin para pengungsi merasa tidak sendirian. Sebagaimana metode Mama Papa yang mengedepankan kasih sayang dalam belajar, aksi donasi ini adalah pelukan hangat dari kami untuk saudara-saudara di Semeru,” ujar perwakilan relawan yayasan di lapangan.

Distribusi Bantuan yang Tepat Sasaran

Donasi yang digalang dan disubsidi oleh Yayasan Mama Papa Mengaji difokuskan pada kebutuhan mendasar yang mendesak, antara lain:

  • Kebutuhan Logistik: Bahan makanan pokok, air bersih, dan perlengkapan bayi.
  • Layanan Psikososial: Mengingat yayasan memiliki keahlian dalam pendekatan psikologis pembelajar, para relawan juga memberikan trauma healing bagi anak-anak di pengungsian melalui teknik bercerita—mirip dengan cara mereka mengenalkan huruf Hijaiyyah.
  • Perlengkapan Ibadah: Penyaluran Al-Qur’an dan alat shalat untuk memastikan kegiatan spiritual tetap terjaga di masa sulit.

Inovasi di Tengah Bencana

Tidak hanya bantuan fisik, Yayasan Mama Papa Mengaji juga memperkenalkan metode baca Al-Qur’an kilat “3 Jam Bisa” secara singkat di beberapa posko pendidikan sementara. Tujuannya adalah memberikan kegiatan positif bagi para remaja dan orang dewasa agar tetap produktif dan optimis meski berada di situasi darurat.

Metode yang menggunakan jembatan keledai seperti “Ada Mama, Papa, Kakak, Saya” terbukti efektif menghibur sekaligus mengedukasi anak-anak pengungsi, membuat mereka sejenak melupakan trauma bencana.

Ajakan untuk Terus Bergerak

Melalui aksi ini, Yayasan Mama Papa Mengaji mengajak seluruh elemen masyarakat, khususnya para alumni pelatihan “3 Jam Bisa Baca Al-Qur’an”, untuk terus menyisihkan sebagian rezeki mereka.

Bencana Semeru adalah momentum bagi kita semua untuk mempraktikkan apa yang kita baca dalam Kitab Suci. Bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Yayasan berkomitmen akan terus mengawal proses pemulihan (recovery) warga Semeru hingga mereka bisa kembali beraktivitas dengan normal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *